26 Februari 2011

in memoriam

ada suatu sore dimana aku bertemu denganmu untuk pertama kalinya, seperti biasanya hujan pasti turun. dan beberapa jam berikutnya aku sadar, kalau ini nantinya menjadi cerita, pasti akan seperti pelangi setelah hujan, mungkin jadi badai setelahnya.
kamu berkata kalau aku mirip seseorang, mantan kamu yang sekarang udah meninggal, dan aku sambut dengan gurauan kalau kamu mirip mantanku yang sudah menikah.
kamu datang dengan minuman hangat di tangan, siap disantap bersambut senyuman.
kamu datang dengan ragu, karena khawatir apa yang kamu buat kurang manis.
kamu datang di suatu sore, dengan kenangan di tengah rintik hujan.

tak seberapa, tapi berkesan.
dan aku pulang saat hujan berhenti, tanpa pelangi.
pulang dengan sadar, aku bukan siapa-siapa.
kamu juga tak akan menjadi apa-apa, karena aku sedang tidak ingin berharap.

hanya berkesan.
mungkin hanya pesan dari Tuhan saat aku mengingatkanmu pada orang yang pernah jadi bagian di hidupmu, bahwa dia pernah ada.
dan tidak untuk kamu lupakan.

6 Februari 2011

pembahasan tentang hidup di beberapa hari lalu

gW dapet wejangan ini pas main ke rumahnya om ritno, orang yang gW anggep sebagai om di kampus gW, warga kampus teknik sipil kelas kerjasama, yang kkn di desa sebelah rumahnya, relatif lebih jauh dari desa kkn gW yang ada di bawah desanya persis.
sore-sore sewaktu bete, di posko kkn ga ada kerjaan, gW iseng mainmain kesana, dan kita pun ngobrol ngalor ngidul ngebahas pekerjaan. sampe suatu saat dia bilang :
'praktek nyari kerjaan pas elu idup engga boleh kaya idupnya tukang becak! udah sombong, sok-sokan pula! contoh gini, ada seorang penumpang nanya ke tukang becak yang lagi ongkang-ongkang di becaknya, biaya keliling alun-alun berapa, tukang becak jawab lima ribu rupiah, si penumpang nawar tiga ribu, dan si tukang becak engga ngasih tumpangan ke si penumpang dengan dalih tarifnya sudah sedemikian.

nah, tukang becak yang bego itupun kembali melanjutkan ongkang-ongkangnya dengan lebih dari satu kerugian. sedangkan si penumpang, dengan atau tanpa tukang becak, dapat mengelilingi alun-alun, tujuannya tersampaikan.
kerugian pertama, si tukang becak melewatkan rejeki, walopun cuma dikasih tigarebu, masih lebih baik ketimbang duduk ongkang-ongkang dan ga dapet penghasilan, dan si pengunjung dengan atau tanpa tukang becak, sekali lagi, bisa mencapai tujuannya.
kerugian kedua, suatu saat nanti, kalo si pengunjung main ke alun-alun dan ketemu tukang becak yang sama, dia relatif kaga akan milih tu tukang becak.! karena berpikir udah si tukang becak sombong, sok-sokan pula!"

nilai itu yang gW ambil saat suatu saat dapet kerjaan pertama kali.! kesan pertama itu penting, dan jangan sampai kesan pertama gW kaya tukang becak yang sombong dan sok-sokan. saat pertama diberi pekerjaan oleh seseorang, apapun pekerjaannya, berapapun nilainya, ambillah.
karena saat pekerjaan kedua menghampirimu, orang yang memberimu pekerjaan akan mengambil referensi dari pekerjaan pertamamu atas dasar percaya, atas dasar pengakuan kalo kamu bisa diandalkan tanpa terlalu memandang nilai nominal, begitu seterusnya, begitu seterusnya, hingga suatu saat kita akan sampai pada taraf mengukur kemampuan diri kita sendiri dalam nominal, hingga pada nantinya kita yang akan memberi pekerjaan pada orang lain..

seperti nun' sukun

teringat di pagi ini akan semalam tadi, saat berhadapan dengan kitab yang dieja oleh anak-anak sebelah dusun.
teringat akan nun sukun yang bisa menjadi apa saja saat bertemu huruf di belakangnya.
teringat akan lirik-lirik individualis orang-orang yang sedang jatuh cinta.

yang mencinta seperti menjelma menjadi nun sukun.
yang dicinta menjadi huruf di belakangnya, dan diantaranya akan banyak cerita tersampaikan, seindah nada dalam kata.

apa akan seperti nun' sukun yang seolah berubah jadi mim saat bertemu 'ba?
lugas seperti saat bertemu alif atau 'ain?
berdengung seperti saat bertemu aksara ikhfa
atau melebur saat bertemu 'lam atau ya'?

andaikata aku adalah nun' sukun, maka aksara apakah kamu?
akan terjadi cerita yang seperti apa? apakah aku akan menjadi nun sukun yang berubah? lugas? berdengung? melebur?
yang kutahu semua akan menjadi baik jika bertemu dengan yang semestinya, dan akan menjadi kebaikan pada nantinya.
karena apapun kamu, aku akan tetap menjadi 'nun sukunku..
karena apapun kamu, aku hanya punya satu itikad, menjalin sebuah cerita..
setepat nada dalam kata yang dilafazkan anak-anak malam tadi
walau hanya beberapa bait kata
yang kuharap berlaku sepanjang masa...